Arung Mangkau’ pun memerintahkan agar putranya datang menemuinya. Setelah La Malu to Anging Raja datang menemui ayahnya, ia pun diperintahkan agar kembali tenang, karena akan di kirim utusan meminang sang Puteri yang dia cintai
Singkatkan ceritera, utusan Arung Mangkau’ Bone pun berangkat ke perkampungan tuan Puteri We Tenriola, Sampai di sana utusan menyampaikan pesan Arung Mangkau’ Bone, yaitu meminang sang tuan Puteri untuk putranya, Lamaran itu tidak dapat langsung diterima Sang Puteri karena masih harus memohon persetujuan ayahandanya, Datu Luwu.
Akhirnya perkawinan tuan Puteri We Tenriola dengan Putra Mahkota Kerajaan Bone- La Malu To Anging Raja dapat berlangsung dengan megahnya. Setelah lamaran disetujui oleh Datu Luwu.
Sejak itu kedua suami istri, putera-puteri raja itu pun hidup rukun dan memerintah perkampungan itu dengan penuh kesungguhan dan keadilan. Perkampungan ini dari hari ke hari menjadi ramai dan makmur karenanya banyak penduduk yang datang menyandarkan nasib dan hidupnya di sana
BACA JUGA : Sejarah DI/TII di Rongkong Seko
Akhirnya perkampungan ini terus bertumbuh berkembang menjadi sebuah kerajaan yang kemudian dikenal sebagai Kerajaan Wajo, sesuai nama pohon tempat perkampungan ini pertama kali didirikan.
Kisah Mengapa Orang Bugis Pantang Makan Kerbau Balar











