ARTIKELOPINI

Kisah Mengapa Orang Bugis Pantang Makan Kerbau Balar

2625
×

Kisah Mengapa Orang Bugis Pantang Makan Kerbau Balar

Sebarkan artikel ini
Kisah Mengapa Orang Bugis Pantang Makan Kerbau Balar
Ilustrasi Kerbau Balar

Dalam pertemuan itu disepakati untuk mengirim utusan menghadap Datu  menyampaikan keinginan rakyat, agar We Tenriola, Puteri  tunggal yang tercinta itu segera disingkirkan dari kedatuan Luwu, Diputuskan pula bahwa apabila Datu  tidak menghiraukan permohonan rakyatnya, maka seluruh rakyat Kedatuan Luwu akan meninggalkan Kedatuan dan pindah ketempat lain ( malekke dapureng).

Pada waktu yang telah ditentukan, para delegasi rakyat bersiap untuk menghadap Datu, Setelah diatur dengan rapi delegasi pun datang menghadap dan setelah sampai dihadapan Datu  Luwu, salah seorang di antaranya bertindak sebagai juru bicara menyampaikan kata-kata permohonan rakyat:

“Maafkan Datu, atas nama seluruh rakyat kedatuan Luwu kami mempersembahkan permohonan ampun beribu ampun kepada Datu”

“Kami ingin menyampaikan bahwa yang mana Datu  sukai antara telur yang banyak dibanding telur sebutir”

“Kalau Datu lebih menyukai telur yang sebutir maka kami semua rakyat kedatuan Luwu akan meninggalkan kedatuan yang kami cintai ini, Tetapi apabila Datu  lebih menyukai telur yang banyak dari pada telur yang sebutir, maka kami memohon kiranya tuan Puteri  We Tenriola yang terserang penyakit kulit, kiranya segera  disingkirkan dari kedatuan Luwu.”

Mendengar kata-kata juru bicara utusan rakyat yang datang menghadap itu, Datu Luwu pun menengadah menahan kesedihan hatinya, kemudian tunduk tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.

Suasana menjadi hening mencekam. Semua yang berada dalam ruangan pertemuan itu merasa sedih dan terharu melihat keadaan sang Datu.

Rasa bimbang yang terjepit diantara pilihan pada Puteri  kesayangannya dan kecintaannya kepada rakyatnya

Akhirnya dengan air mata berlinang-linang, dengan terbata-bata Datu  berkata; “Permohonanmu wahai rakyatku saya telah dengarkan, keinginanmu telah saya maklumi sehingga untuk itu saya telah mengambil keputusan, bahwa saya lebih mencintai telur yang banyak dari pada telur yang sebutir.

Saya harap supaya kalian kembali hidup tentram sambil membantu saya mempersiapkan pemberangkatan Puteri  We Tenriola, Puteri  tunggal saya yang akan meninggalkan kedatuan Luwu menuju tempat yang kita tidak sama ketahui.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *