Para pengantarnya baru meninggalkan tempat itu setelah mereka tak dapat lagi mengikuti dengan pandangan mata rakit yang ditumpangi tuan Puteri kian menjauh, Demikian pula halnya Datu Luwu dan permaisurinya.
Empat puluh hari empat puluh malam kedatuan Luwu berada dalam keadaan berkabung, Tak ada keramaian, tak ada bunyi-bunyian, orang yang lalu lalangpun tidak seramai seperti biasanya. Dari wajah setiap orang nampak rona kesedihan, Akhirnya setelah berlalu empat puluh hari empat puluh malam, sedikit demi sedikit keadaan duka di kedatuan mulai pulih kembali.
Bagaimana dengan nasib tuan Puteri We Tenriola Taddampali serta seluruh inang serta dayang dan pengiring yang menyertainya.
Setelah rakit yang ditumpanginya hanyut terbawa arus sungai berpuluh-puluh hari lamanya, akhirnya terdamparlah rombongan itu di tepi sebuah kampung yang tidak diketahui nama tempat itu.
Beberapa orang pengiringnya naik kedarat akan mencari tempat yang layak untuk dijadikan perkampungan mereka, Mujur sekali karena tidak jauh dari sungai, tepatnya di bawah pohon besar yang kemudian dikenal namanya pohon Wajo, menjadi lokasi pilihan mereka.
Di lokasi inilah mereka membuat perkampungan, Pohon dan bambu ditebang untuk dijadikan rumah beratap daun rumbia sebagai tempat tinggal mereka.











